Tragedi pengeboman Nagasaki pada 9 Agustus 1945 adalah hasil dari serangkaian keputusan mendadak yang dipengaruhi oleh cuaca dan kondisi tak terduga. Sasaran awal serangan bom atom “Fat Man” sebenarnya adalah Kokura, yang pagi itu tertutup awan tebal. Hal ini memaksa pesawat pengebom B-29 Superfortress “Bockscar” beralih ke target alternatif, yaitu Nagasaki. Bahkan di Nagasaki, awan sempat menutupi wilayah tersebut hingga detik-detik terakhir, ketika celah di awan membuka pandangan ke Distrik Urakami, yang akhirnya menjadi lokasi ledakan.

Dampaknya luar biasa menghancurkan. Ledakan dengan suhu mencapai 3.900 derajat Celsius dan kekuatan setara 21 kiloton TNT menghanguskan Distrik Urakami beserta isinya. Ribuan orang, mayoritas warga sipil, menjadi korban, termasuk mereka yang tinggal di rumah, sekolah, rumah sakit, hingga kamp tahanan perang. Kehancuran ini menewaskan lebih dari 70.000 orang dalam sekejap, sementara ribuan lainnya meninggal perlahan akibat luka bakar dan radiasi.

Meski kehancurannya setara dengan Hiroshima, jejak visual tragedi di Nagasaki hampir tak ada lagi. Pemerintah dan masyarakat setempat memilih untuk membangun kembali kota dengan wajah baru. Lokasi hiposentrum kini berubah menjadi taman-taman indah dan museum yang didedikasikan untuk perdamaian dunia. Patung-patung dari seniman internasional menghiasi area tersebut, menyampaikan pesan solidaritas dan harapan untuk masa depan tanpa perang.

Berbeda dengan Hiroshima, yang masih melestarikan Kubah Bom Atom sebagai pengingat sejarah, Nagasaki memilih pendekatan berbeda—menyembunyikan jejak kehancuran dengan keindahan dan kedamaian. Di bawah taman-taman ini, abu dan serpihan tulang korban mungkin masih terkubur, menjadi saksi bisu atas tragedi yang mengguncang dunia. Meski keindahan masa kini sulit mengungkapkan masa lalu yang kelam, Nagasaki tetap menjadi simbol pengingat akan bahaya perang dan pentingnya perdamaian.