Keputusan BBN Airlines Indonesia untuk menghentikan operasional rute Jakarta-Surabaya-Jakarta (CGK-SUB-CGK) menyoroti tantangan yang dihadapi maskapai penerbangan dalam mempertahankan rute domestik dengan permintaan pasar yang rendah. Dengan tingkat keterisian penumpang hanya 43% selama hampir empat bulan terakhir dan prediksi penurunan drastis hingga 5%, penghentian rute ini tampaknya merupakan langkah strategis untuk mengurangi kerugian dan menyelaraskan strategi jaringan mereka.

Respons Kementerian Perhubungan yang meminta BBN Airlines untuk memastikan hak penumpang terpenuhi, seperti pengembalian uang tiket secara penuh, mencerminkan komitmen untuk melindungi konsumen. Langkah proaktif BBN Airlines dengan memberikan kompensasi penuh dan menghentikan penjualan tiket sejak 10 Januari 2025 juga menunjukkan kesadaran perusahaan terhadap dampak potensial terhadap penumpang.

Penghentian rute ini dapat menjadi pengingat bagi maskapai lain untuk terus memantau minat pasar dan melakukan evaluasi berkala terhadap efisiensi rute mereka. Di sisi lain, faktor eksternal seperti kompetisi dengan moda transportasi lain, harga tiket, dan kondisi ekonomi masyarakat mungkin turut memengaruhi minat terhadap rute domestik tertentu.